Selasa, 07 Juni 2016

Perjalanan Sebuah Persahabatan

“Kelas 3 SMP” itu yang telintas di benakku. Dulu aku punya beberapa teman yang deket banget, yaa bisa dibilang sahabatlah. Kami ber’tujuh bersahabat tanpa sengaja, tiba-tiba aja kami suka maen-maen bareng. Sampai suatu saat, kami menyadari kalo kami saling suka satu sama lain, entah karena apa. Mungkin karena kami slalu bersama.
Hhmm.. Namaku sendiri Rara Dwi Wijaya, aku bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama di daerah tempat tinggalku. Aku sempat mempunyai teman yang bener-bener dekat banget sama kehidupanku sehari-hari, apapun yang aku lakukan slalu bersama mereka. Tapi suatu saat hubungan kami sebagai seorang sahabat sepertinya harus berakhir dengan pilihan jalan masing-masing, artinya kita sudah nggak bisa bersatu lagi, kalaupun bisa mungkin hanya sebagai teman biasa.
CINTA itu jahat..........
Bisa merubah segalanya. . .
Persahabatan yang dari dulu kita bangun sekarang hancur karenanya. .
Selamanya itu akan menjadi sebuah rahasia !!!!!!!!!
Dan gag akan pernah ada yang bisa menjawabnya selama kita masih seperti anak kecil. .

            Cerita ini di awali dari berubahnya status antara Fika dan Dion, dari seorang sahabat berubah menjadi sepasang kekasih. Kaget juga sih denger berita itu tapi itu kenyataannya. Dan yang lebih ngagetin lagi, mereka udah jadian sejak 3 bulan yang lalu. Entah apa yang ada di benak mereka.                                                                                  
       Waktu itu Fika bilang gini ke aku “Ra, kalo misalnya aku jadian sama Dion gimana menurut kamu, setuju nggak  ?”. Saat itu aku bener-bener kanget, bisa-bisanya mereka ampek jadian.  “Haaaa . . . kamu bercandakan?? , kita udah temenan lama, kamu yakin ??”.                                              
  “Iyalah, nggak tau aku. . tiba-tiba aja ada rasa”. Kemudian  dia diam sambil memperhatikan handphonenya, berharap Hp itu berbunyi. Kali ini aku jawab dengan sedikit pelan. “HHmm . . .Ya udahlah, aku sih gimana hati kamu aja. Yang penting kamu bisa jaga diri kamu sama persahabatan kita”
            Sejak saat itu Fika sama Dion jadi jauh dari kita (Wita,Tian, Ryan sama Dimas). Yaa . . .kalo aku sih ngerti aja mereka berdua jadi gitu, mereka emang udah pacaran. Tapi nggak tau deh yang lain gimana. aku sama Fika emang satu kelas, jadi nggak heran kalo aku deket banget sama dia, aku juga sering nemenin dia maen ke rumah Dion. Sampai suatu saat pas kita maen kerumah Dion ternyata Dimas juga disana. Entah kenapa sejak saat itu aku  jadi deket sama Dimas. Dari waktu ke waktu kedekatan kita sudah seperti orang pacaran, padahal kita belum pacaran, sebenarnya aku nggak begitu suka sama Dimas tapi mungkin gara-gara kita sering jadi bahan  bercandaan temen-temen itu membuat kita makin deket. Hingga akhirnya aku jadian sama Dimas(tanpa rasa) tapi aku mencoba buat menjalani semua dengan ikhlas, toh aku juga nggak mau menyakiti siapapun, aku hanya mencoba buat hargai perasaannya dengan mau menerimanya.
            Sekarang hari-hariku banyak aku abisin sama Dimas. aku udah nggak peduli lagi sama temen-temen, begitu juga dengan Fika, dan ternyata Wita sama Tian juga gitu, mereka udah sibuk sama kegiatan masing-masing. Sampai suatu saat aku mencoba hubungin mereka dan ngajak mereka kumpul-kumpul di tempat biasanya kita ngumpul tapi ternyata apa ?? Nggak ada respon dari mereka !!.
***
            Seperti biasa, hari ini waktunya Bimbel. Aku memang bimbel di tempat yang sama dengan Fika and Wita. Saat itu waktunya mau UAN tahun 2010/2011 jadi rajin-rajinnya kita belajar. Waktu abis bimbel, kita ngumpul-ngumpul dulu. Yaa. . . shering-shering gitu, karena kita udah nggak bisa kumpul-kumpul lagi kalo nggak pas waktunya bimbel gini. Nha pas asyik-asyiknya ngobrol lagi-lagi aku kaget banget.
“Cie cie . . . Wita, udah jadian nie yee”. Kata Fika.
“haduuuh, ada apaan lagi sih?? Tanyaku dalam hati
 “Eh eh. . ada apaan sih, ,Jadian sama siapa si Wita ?? “ lanjutku.
“Ih. . .elo tu. Kemana aja maaak? “ Jawab Fika.
“ Yaa kan aku nggak tau, critain dong !!”
“Itu . .tu . . Si Wita, masa jadian sama Tian. Hahaha. .  lucu ya kita..aku sama Dion, kamu sama Dimas, dan Wita sama Tian.. hehe. Gimana dengan Ryan ?? Sendiri dong !! J J
“Beneran loe Wit “ tanyaku sambil melotot ke arah Wita yang lagi duduk di deket vas bunga. Dengan malu-malu Wita menjawab pertanyaanku “ Hehe. .Iya Ra”. Setelah denger jawaban dari Wita rasanya hatiku sakit banget. Sejak saat itu aku mulai menjauh dari mereka. Aku nggak peduli lagi sama mereka bahkan aku juga nggak peduli lagi sama Dimas, cowok aku sendiri. Aku mulai fokus sama Ujian yang sebentar lagi akan dateng.

***

“Jika seseorang tersenyum dengan tergenang air di matanya, apa maksud dari senyuman itu?”. Beberapa penafsiran mungkin dapat diberikan. Tapi aku lebih setuju dengan penafsiranku sendiri. “Senyum itu tercipta dari suasana hati, bisa haru sekaligus bahagia”.
            Fika memelukku setelah senyuman itu. Yaa. .  Kami LULUS. Setelah menempuh Ujian Nasional yang di laksanakan selama 4 hari. Tangis haru meramaikan ruang kecil di pojok kanan dari gerbang depan sekolahku. 3 tahun sudah aku belajar di SMP, sekarang waktunya aku melanjutkan pendidikanku yang lebih tinggi lagi.
Sobat,
kita tlah tahu Kita tak selamanya bersatu,
Menempuh jalan hidup yang bertabur debu,
Bertabur dedaunan yang tak pernah tersapu,
Saat berpisah harus menyapa,
Ku tak ingin kau teteskan air mata,
Ku tak ingin kau berduka,
Karena hati kita kan tetap bersama
Sahabatku tercinta!!

Inilah hidup Kadang kita membuka
Suatu saat kita kan menutup,
Sahabatku tercinta!!
Ku ingin kita kembali bersama
Di saat harta tak lagi berguna....”


***

Sore itu, ibu yang lagi nyapu lantai di teras depan tiba-tiba teriak-teriak manggilku.
“Sayang, sayang..Raraaa”
“Iya bu.. ada apa sih?”
“Ada Fika ni”
“Iya bu, suruh duduk aja dulu. Ni aku lagi ganti baju”. Setelah beberapa lama kemudian aku menemui Fika, aku melihat mata Fika yang merah dan bengkak. Beberapa pertanyaan berdatangan di fikiranku yang tak mungkin untuk aku tanyakan satu per satu. Tapi, akhirnya aku memberanikan diri untuk mulai bertanya.
“Fik, kamu kenapa? Kok matanya merah gitu ?”. Tanyaku.
Dia menatapku dengan penuh beban, aku semakin bingung.
“Kenapa sih kamu Fik? Jawab dong!!” Tambahku agak membentak.
Ia tidak segera menjawab, tiba-tiba dari kedua matanya mengalir air mata yang lama kelamaan semakin menjadi. Aku sedikit khawatir, karena aku tadi sedikit membentak saat menanyakan keadaanya. Tidak lama kemudian ia mulai mengeluarkan suaranya.
“ Aku baru saja putus Ra, aku bingung mau bercerita sama siapa” jawabnya dengan suara yang sedikit serak.
“Kenapa Fik, kenapa bisa putus?”
“Ini semua hanya salah faham Ra, aku dah jelasin semuanya. Tapi Dion nggak mau tau, dia sudah di kuasai emosinya,. Omongannya kasar, aku nggak suka itu!!”.
“Yaudahlah Fik, kamu jangan nangis terus. Mungkin dia masih emosi, kamu tau sendirikan gimana sifatnya Dion itu. Keras kepala!!”
“Tapi aku nggak bisa lupain kalimat-kalimat yang di ucapin Dion, aku nggak nyangka dia bisa kayak gitu”, lanjutnya.
“Udahlah Fik, udah.. Mendingan kita main aja, ke taman. Mungkin itu bisa nenangin hati kamu. Walau cuma dikit “. Ajakku.
“Iy, aku nurut kamu aja” Jawabnya.
***
Semenjak aku memutuskan untuk menjauh dari mereka-mereka sahabat dan pacarku. Aku memang benar-benar menjauh. Hingga suatu saat aku tau bahwa selama aku jauh dari mereka ternyata Dimas sudah mulai berani main-main denganku.
Apa arti cinta kalau anda saja tak mengerti cinta itu sendiri, kalau cinta harus memiliki kenapa orang-orang yang pasangnya sudah meninggal masih bisa bertahan dengan kesendiriaanya?? Kenapa mereka masih bisa menjalani hidup seperti biasanya?? Atau mungkin anda berfikir bahwa cintannya sudah pudar ??. Setau saya cinta itu datang dari hati, ia tidak akan pernah pudar kalau memang benar-benar datang dari hati. Sebaiknya anda fahami dulu apa arti cinta itu, sebelum anda menyakiti seseorang karna cinta semu anda yang hanya sebuah ungkapan dari bibir manis anda .bukan dari hati .
Mungkin kata itu yang cukup mewakli hatiku, gimana sakitnya di hianati. Mungkin karena aku lebih mementingkan pendidikanku di banding perhatianku kepadanya, tapi apa aku salah ?? Entahlah, kalau memang aku harus putus dengannya, aku akan mencoba untuk mengihklaskannya.
            Ya tuhan, inikah jalan yang sudah engkau gariskan untuk kami, persabatanku mulai HANCUR, hanya karena sebuah perasaan yang tak seharusnya kami rasakan. Atau ini hukuman dari Engkau karena kami sudah merusak persabatan kami dengan kecerobohan kami?? Mungkinkah kami bisa bersatu kembali suatu saat nanti.
            Sekarang kita berjalan sendiri-sendiri, meraih cita-cita tanpa orang-orang terdekat, tanpa dukungan mereka. Entah apa yang akan terjadi esok, kami tidak tau apa yang terjadi esok saat kami mulai bersatu kembali.
Perjalanaku
Mencari permata-permata
Yang bisa menghidupkan hati
Agar aku senantiasa mengingatNYA
Apakah permata yang kucari-cari perjalanannya sukar, penuh berduri
Sehingga langkahanku menjadi payah
Aku bertanya-tanya, adakah masih jalan yang harus kutempuh
Atau tersedia di depan mata
Tapi langkahku ini tak akan mengenal apa itu lelah
Permata yang ku cari selama hidupku ini pasti akan ku temui
Dan di ujungnya pasti bahagia
Doaku hanya satu,
Semoga Allah mempertemukanku dengan permata di ujung perjalanan
Itulah permata yang bernama
SAHABAT

Aku percaya ikatan ini. 

Semoga bermanfaat :))

Pesan Terakhir Nenek dan Ayah

Gadis kecil itu bernama Aliya Nur Kholifah, saat ini genap 9 tahun usianya. Ia slalu mengawali hari-harinya dengan senyumnya yang manis. Dari kecil ia sudah di didik untuk hidup sederhana jadi tidak heran kalau dia bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain, walaupun masih kecil ia tidak mau merepotkan orang tuanya. Dia juga rajin membantu kedua orang tuanya, salah satunya dengan merawat neneknya yang sudah tua. Mungkin itu bentuk terima kasihnya kepada neneknya yang dengan sabar sudah mengurusnya dari kecil, bukan karena apa-apa tapi karena memang dari muda ibunya sudah berjualan bunga di depan rumah jadi sejak bayi ia sudah terbiasa dengan neneknya. Neneknya memang sudah sangat tua, beliau tidak pernah sekalipun mau merepotkan orang lain, tapi tidak untuk sekarang. Beliau sudah sangat tua, kesehatannyapun menurun. Ayahnya sendiri adalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta dekat tempat tinggalnya.
“Nek, cepat sembuh yaa. . nanti kalau sudah sembuh aliya ajak jalan-jalan deh, hehe J. .” Ucap Aliya dengan polosnya.
Sambil tersenyum neneknya menjawab “Iya, sayang. Nenek pasti sembuh, nenenkkan kuat, pasti sebentar lagi sembuh..”
“Bener ya nek. . “ tambah aliya.
Kali ini nenek hanya menjawabnya dengan senyuman.
****
Hari berganti hari, keadaan nenek aliya makin parah. Sejak jatuh di teras rumah beberapa hari yang lalu, mungkin hari ini puncak dari rasa sakit yang diderita beliau. Tepat jam 23.30 hari sabtu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggal beliau sempat menitipkan selembar kertas untuk aliya.
            “Aliya. . Kamu harus menjadi orang hebat nantinya, kamu harus bisa membuat bangga kedua orang tuamu. Disana, nenek pasti bahagia melihat kesuksesanmu kelak. Nenek sayang aliya”
            Tak lama kemudian dari kedua matanya, menetes air mata yang semakin lama semakin banyak. Meskipun masih kecil tapi ia bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi, untuk selamanya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia habiskan dengan neneknya. Dan sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan-kegiatan itu.
            Meskipun begitu ia tetap bersyukur karena masih ada kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya dan di ujung usia neneknya ia masih bisa membahagiakan neneknya, walau dengan hal yang sangat kecil.
***
            Sekarang sudah 8 tahun sudah kepergian neneknya dan itu artinya 17 tahun sudah usia aliya. Aliya tumbuh cantik dan anggun dengan balutan kain di kepalanya. Dengan jilbab merah muda itu ia pergi menuju toko buku langganannya, ia memang suka membaca tapi ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan main piano (keyboard), tapi sayangnya ia belun memilikinya jadi untuk menyalurkan bakatnya itu ia harus bersusah payah untuk menyewa studio musik dan itu tidak murah. Jadi dia mengalihkannya dengan membaca-baca buku.
            Hari ini tanggal 18, bulan kelahirannya.
“Assalamu’alaikum, Aliya pulang bunda..”
Tak ada jawaban, hening suasana dalam rumah.
“Bunda . ., Aliya pulang” Sekali lagi ia mencoba dengan sedikit mengeraskan suaranya. Tapi tetap tak ada jawaban. Akhirnya ia berjalan menuju kamar bundanya tapi tetap saja ia tidak menemukan seorangpun di rumah kecil itu. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya, sampai di kamar ia duduk sambil melepas sepatu yang masih terpakai di kakinya. Diluar terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya yang terletak di dekat jendela, dan nggak salah lagi bundanya pulang. Tapi kedatangan ibunya membuatnya sedikit bingung. Mata bunda merah dengan sedikit kerutan di wajah bunda tiba-tiba mengeluarkan air dari kedua matanya.
“Bunda kenapa ??” Tanya Aliya dengan wajah bingung.
Tapi tak ada jawaban yang ada hanyalah suara tangisan yang semakin lama semakin keras.
“Bunda, ada apa ini.?? Bunda kenapa ??
“Ayahmu nak” Jawab Bunda.
“Ayah kenapa Bunda, Ayah kenapa ??” Tanya Aliya khawatir.
Tak ada jawaban dari bunda.
Saat itu fikiran Aliya kemana-mana, ia khawatir dengan keadaan ayahnya yang belum jelas, ia teringat perkataan ayah tadi pagi. Ayah bilang “Aliya, kamu sudah besar, kamu harus bisa menjaga Bunda nanti. Kalau ayah sudah tidak bisa menjaga bunda kamu harus janji ke ayah kalau kamu yang akan menggantikan ayah untuk menjaga bunda, Ayah percaya kok, kamu pasti bisa. Dan kamu juga harus berprestasi di sekolah biar ayah sama bunda bangga mempunyai anak sepertimu dan kamu juga masih ingatkan pesan nenek dulu, kamu harus jadi orang sukses.” Tidak biasanya ayah berkata seperti itu. Mengingat kalimat terakhir dari ayah tiba-tiba ia mulai meneteskan air yang lama-kelamaan semakin banyak.
“Kamu yang sabar ya nak “. Bunda mulai bicara.
“Ada apa bun, , Ayah kenapa?? Tolong jelaskan bun..” Pinta Aliya dengan suara sedikit serak.
“Ayah  meninggal, Ayah kecelakaan saat pulang membelikan piano untukmu, hari ini ulang tahunmu nak. Ayah sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun tadi pagi, ayah berencana untuk memberikanmu kejutan. Tapi Tuhan berkahendak lain.” Jelas Bunda.
Saat itu juga hatinya seperti tercabik-cabik. Tak salah lagi kalimat-kalimat tadi pagi ternyata pesan terakhir ayah untukku.
“Ayah meninggal karena aku, ayah meninggal karena ingin memberi kejutan kepadaku. Ya Allah, maafkan hamba..Hamba penyebab meninggalnya ayah”.


Ayah
Tiada kata yang indah selain aku sayang padamu,
Tapi, aku takut
Takut pandangan matamu
Takut melihat wajah seriusmu
Namun,
Aku merasa sunyi saat kehilanganmu di dunia ini
Disaat aku meniti kejayaan ini,
Ya allah, padamu aku memohon
Ampunilah dosa ayahku
Tempatkanlah ayahku bersama kekasihmu

***
            Hari berganti hari, Aliya hidup hanya dengan bundanya yang masih menekuni pekerjaanya sebagai pedagang bunga. Kini Aliya mulai mengenal cowok, Ia mulai memberanikan diri untuk mengenal lawan jenis. Selain kepada temannya ia juga sering curhat tentang cowok kepada bundanya. Pernah suatu ketika ia naksir cowok satu kelasnya, menurutnya cowok itu keren, ganteng dan bertanggung jawab tapi bertolak belakang sekali dengan kenyataannya. Sebenarnya cowok itu playboy, tidak bertanggung jawab tapi mungkin itu ketutup dengan kegantengan cowok itu. Mungkin Aliya terlanjur suka kepada cowok itu jadi apapun yang ada pada diri cowok itu semuanya bagus menurut Aliya. Untungnya ada sahabat Aliya yang ngingetin hal itu jadi rasa suka itu perlahan-lahan bisa ia hapus.
“Bunda, Aliya sudah boleh pacaran belum ??” Tanya Aliya polos.
“Aliya, bunda dukung apapun keputusan kamu, kalau kamu sudah yakin. Bunda izinkan, tapi kamu harus bisa mengatur waktu. Kamu juga harus bisa jaga diri, bunda percaya kok sama Aliya”. Terang bundanya.
“Iya bunda, aliya tau. Lagian Aliya cuma nanya aja kok. Aliya mau pacarannya nanti pas aliya sudah kerja. Tapi bunda, Aliya bolehkan punya teman laki-laki?”
“Boleh sayang” Jawab bunda.
            Bunda Aliya memang sangat percaya kepada Aliya, bahkan untuk urusan cowok sekalipun ia tidak pernah mempermasalahkan dengan putri semata wayangnya itu. Mungkin karena didikan orang tuanya dulu, ia turunkan kepada Aliya. Keluarga kecil itu memang memegang teguh kepercayaan satu sama lain sehingga terjalin hubungun yang sangat harmonis antar anggota keluarga.
Setelah selesai SMA rencananya aliya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena himpitan ekonomi, sebenarnya Bundanya mau menanggung biaya pendidikannya tapi aliya memutuskan untuk tidak melanjutkan karena ia tidak mau menyusahkan bundanya lagi. Ia mempunyai rencana untuk bekerja dulu baru melanjutkan dengan biayanya sendiri. Tapi Tuhan berkehendak lain karena prestasinya itu sekolah mau memperjuangkan bea siswa di perguruan tinggi negeri untuk pendidikannya sampai ia menjadi sarjana nantinya. Ia sangat bersyukur sekali dengan rezeki yang di berikan kepadanya. Dengan bea siswa itu ia sangat sungguh-sungguh belajar di perguruan tinggi negeri itu sampai akhirnya ia bisa menyelesaikannya dengan IP yang sangat tinggi. Dengan jurusan pendidikan.
            Berbekal ijazah itu awalnya ia mulai melamar di salah satu Sekolah Dasar Negeri sebagai guru sukuan (bukan PNS), tapi karena kecakapannya akhirnya ia bisa menjadi PNS tanpa waktu yang lama. Ia memilih untuk menjadi guru SD karena menurutnya guru SD itu berperan sangat besar untuk kelanjutan hidup seseorang karena Pendidikan itu di mulai dari SD dengan kata lain SD  merupakan dasar dari pendidikan.
            Setelah terselesaikannya pendidikannya dan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan akhirnya ia mendapatkan seorang kekasih yang begitu menyayanginya. “IRFAN” yaa. . Irfan namanya. Ia adalah seorang dokter. Tidak lama kemudian mereka menikah.

“Ayah, Nenek. Sekarang Aliya sudah sukses. Aliya sudah bisa menjaga Bunda sampai Aliya menikah. Aliya juga bahagia, Aliya menjadi seorang guru dan Aliya juga mendapatkan seorang suami yang begitu menyayangi Aliya dan calon keluarga Aliya nantinya. Semoga ayah dan nenek benar-benar bahagia disana”