Selasa, 07 Juni 2016

Pesan Terakhir Nenek dan Ayah

Gadis kecil itu bernama Aliya Nur Kholifah, saat ini genap 9 tahun usianya. Ia slalu mengawali hari-harinya dengan senyumnya yang manis. Dari kecil ia sudah di didik untuk hidup sederhana jadi tidak heran kalau dia bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain, walaupun masih kecil ia tidak mau merepotkan orang tuanya. Dia juga rajin membantu kedua orang tuanya, salah satunya dengan merawat neneknya yang sudah tua. Mungkin itu bentuk terima kasihnya kepada neneknya yang dengan sabar sudah mengurusnya dari kecil, bukan karena apa-apa tapi karena memang dari muda ibunya sudah berjualan bunga di depan rumah jadi sejak bayi ia sudah terbiasa dengan neneknya. Neneknya memang sudah sangat tua, beliau tidak pernah sekalipun mau merepotkan orang lain, tapi tidak untuk sekarang. Beliau sudah sangat tua, kesehatannyapun menurun. Ayahnya sendiri adalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta dekat tempat tinggalnya.
“Nek, cepat sembuh yaa. . nanti kalau sudah sembuh aliya ajak jalan-jalan deh, hehe J. .” Ucap Aliya dengan polosnya.
Sambil tersenyum neneknya menjawab “Iya, sayang. Nenek pasti sembuh, nenenkkan kuat, pasti sebentar lagi sembuh..”
“Bener ya nek. . “ tambah aliya.
Kali ini nenek hanya menjawabnya dengan senyuman.
****
Hari berganti hari, keadaan nenek aliya makin parah. Sejak jatuh di teras rumah beberapa hari yang lalu, mungkin hari ini puncak dari rasa sakit yang diderita beliau. Tepat jam 23.30 hari sabtu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggal beliau sempat menitipkan selembar kertas untuk aliya.
            “Aliya. . Kamu harus menjadi orang hebat nantinya, kamu harus bisa membuat bangga kedua orang tuamu. Disana, nenek pasti bahagia melihat kesuksesanmu kelak. Nenek sayang aliya”
            Tak lama kemudian dari kedua matanya, menetes air mata yang semakin lama semakin banyak. Meskipun masih kecil tapi ia bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi, untuk selamanya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia habiskan dengan neneknya. Dan sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan-kegiatan itu.
            Meskipun begitu ia tetap bersyukur karena masih ada kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya dan di ujung usia neneknya ia masih bisa membahagiakan neneknya, walau dengan hal yang sangat kecil.
***
            Sekarang sudah 8 tahun sudah kepergian neneknya dan itu artinya 17 tahun sudah usia aliya. Aliya tumbuh cantik dan anggun dengan balutan kain di kepalanya. Dengan jilbab merah muda itu ia pergi menuju toko buku langganannya, ia memang suka membaca tapi ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan main piano (keyboard), tapi sayangnya ia belun memilikinya jadi untuk menyalurkan bakatnya itu ia harus bersusah payah untuk menyewa studio musik dan itu tidak murah. Jadi dia mengalihkannya dengan membaca-baca buku.
            Hari ini tanggal 18, bulan kelahirannya.
“Assalamu’alaikum, Aliya pulang bunda..”
Tak ada jawaban, hening suasana dalam rumah.
“Bunda . ., Aliya pulang” Sekali lagi ia mencoba dengan sedikit mengeraskan suaranya. Tapi tetap tak ada jawaban. Akhirnya ia berjalan menuju kamar bundanya tapi tetap saja ia tidak menemukan seorangpun di rumah kecil itu. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya, sampai di kamar ia duduk sambil melepas sepatu yang masih terpakai di kakinya. Diluar terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya yang terletak di dekat jendela, dan nggak salah lagi bundanya pulang. Tapi kedatangan ibunya membuatnya sedikit bingung. Mata bunda merah dengan sedikit kerutan di wajah bunda tiba-tiba mengeluarkan air dari kedua matanya.
“Bunda kenapa ??” Tanya Aliya dengan wajah bingung.
Tapi tak ada jawaban yang ada hanyalah suara tangisan yang semakin lama semakin keras.
“Bunda, ada apa ini.?? Bunda kenapa ??
“Ayahmu nak” Jawab Bunda.
“Ayah kenapa Bunda, Ayah kenapa ??” Tanya Aliya khawatir.
Tak ada jawaban dari bunda.
Saat itu fikiran Aliya kemana-mana, ia khawatir dengan keadaan ayahnya yang belum jelas, ia teringat perkataan ayah tadi pagi. Ayah bilang “Aliya, kamu sudah besar, kamu harus bisa menjaga Bunda nanti. Kalau ayah sudah tidak bisa menjaga bunda kamu harus janji ke ayah kalau kamu yang akan menggantikan ayah untuk menjaga bunda, Ayah percaya kok, kamu pasti bisa. Dan kamu juga harus berprestasi di sekolah biar ayah sama bunda bangga mempunyai anak sepertimu dan kamu juga masih ingatkan pesan nenek dulu, kamu harus jadi orang sukses.” Tidak biasanya ayah berkata seperti itu. Mengingat kalimat terakhir dari ayah tiba-tiba ia mulai meneteskan air yang lama-kelamaan semakin banyak.
“Kamu yang sabar ya nak “. Bunda mulai bicara.
“Ada apa bun, , Ayah kenapa?? Tolong jelaskan bun..” Pinta Aliya dengan suara sedikit serak.
“Ayah  meninggal, Ayah kecelakaan saat pulang membelikan piano untukmu, hari ini ulang tahunmu nak. Ayah sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun tadi pagi, ayah berencana untuk memberikanmu kejutan. Tapi Tuhan berkahendak lain.” Jelas Bunda.
Saat itu juga hatinya seperti tercabik-cabik. Tak salah lagi kalimat-kalimat tadi pagi ternyata pesan terakhir ayah untukku.
“Ayah meninggal karena aku, ayah meninggal karena ingin memberi kejutan kepadaku. Ya Allah, maafkan hamba..Hamba penyebab meninggalnya ayah”.


Ayah
Tiada kata yang indah selain aku sayang padamu,
Tapi, aku takut
Takut pandangan matamu
Takut melihat wajah seriusmu
Namun,
Aku merasa sunyi saat kehilanganmu di dunia ini
Disaat aku meniti kejayaan ini,
Ya allah, padamu aku memohon
Ampunilah dosa ayahku
Tempatkanlah ayahku bersama kekasihmu

***
            Hari berganti hari, Aliya hidup hanya dengan bundanya yang masih menekuni pekerjaanya sebagai pedagang bunga. Kini Aliya mulai mengenal cowok, Ia mulai memberanikan diri untuk mengenal lawan jenis. Selain kepada temannya ia juga sering curhat tentang cowok kepada bundanya. Pernah suatu ketika ia naksir cowok satu kelasnya, menurutnya cowok itu keren, ganteng dan bertanggung jawab tapi bertolak belakang sekali dengan kenyataannya. Sebenarnya cowok itu playboy, tidak bertanggung jawab tapi mungkin itu ketutup dengan kegantengan cowok itu. Mungkin Aliya terlanjur suka kepada cowok itu jadi apapun yang ada pada diri cowok itu semuanya bagus menurut Aliya. Untungnya ada sahabat Aliya yang ngingetin hal itu jadi rasa suka itu perlahan-lahan bisa ia hapus.
“Bunda, Aliya sudah boleh pacaran belum ??” Tanya Aliya polos.
“Aliya, bunda dukung apapun keputusan kamu, kalau kamu sudah yakin. Bunda izinkan, tapi kamu harus bisa mengatur waktu. Kamu juga harus bisa jaga diri, bunda percaya kok sama Aliya”. Terang bundanya.
“Iya bunda, aliya tau. Lagian Aliya cuma nanya aja kok. Aliya mau pacarannya nanti pas aliya sudah kerja. Tapi bunda, Aliya bolehkan punya teman laki-laki?”
“Boleh sayang” Jawab bunda.
            Bunda Aliya memang sangat percaya kepada Aliya, bahkan untuk urusan cowok sekalipun ia tidak pernah mempermasalahkan dengan putri semata wayangnya itu. Mungkin karena didikan orang tuanya dulu, ia turunkan kepada Aliya. Keluarga kecil itu memang memegang teguh kepercayaan satu sama lain sehingga terjalin hubungun yang sangat harmonis antar anggota keluarga.
Setelah selesai SMA rencananya aliya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena himpitan ekonomi, sebenarnya Bundanya mau menanggung biaya pendidikannya tapi aliya memutuskan untuk tidak melanjutkan karena ia tidak mau menyusahkan bundanya lagi. Ia mempunyai rencana untuk bekerja dulu baru melanjutkan dengan biayanya sendiri. Tapi Tuhan berkehendak lain karena prestasinya itu sekolah mau memperjuangkan bea siswa di perguruan tinggi negeri untuk pendidikannya sampai ia menjadi sarjana nantinya. Ia sangat bersyukur sekali dengan rezeki yang di berikan kepadanya. Dengan bea siswa itu ia sangat sungguh-sungguh belajar di perguruan tinggi negeri itu sampai akhirnya ia bisa menyelesaikannya dengan IP yang sangat tinggi. Dengan jurusan pendidikan.
            Berbekal ijazah itu awalnya ia mulai melamar di salah satu Sekolah Dasar Negeri sebagai guru sukuan (bukan PNS), tapi karena kecakapannya akhirnya ia bisa menjadi PNS tanpa waktu yang lama. Ia memilih untuk menjadi guru SD karena menurutnya guru SD itu berperan sangat besar untuk kelanjutan hidup seseorang karena Pendidikan itu di mulai dari SD dengan kata lain SD  merupakan dasar dari pendidikan.
            Setelah terselesaikannya pendidikannya dan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan akhirnya ia mendapatkan seorang kekasih yang begitu menyayanginya. “IRFAN” yaa. . Irfan namanya. Ia adalah seorang dokter. Tidak lama kemudian mereka menikah.

“Ayah, Nenek. Sekarang Aliya sudah sukses. Aliya sudah bisa menjaga Bunda sampai Aliya menikah. Aliya juga bahagia, Aliya menjadi seorang guru dan Aliya juga mendapatkan seorang suami yang begitu menyayangi Aliya dan calon keluarga Aliya nantinya. Semoga ayah dan nenek benar-benar bahagia disana”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar