Gadis kecil itu bernama Aliya Nur Kholifah, saat ini genap 9
tahun usianya. Ia slalu mengawali hari-harinya dengan senyumnya yang manis.
Dari kecil ia sudah di didik untuk hidup sederhana jadi tidak heran kalau dia
bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain, walaupun masih
kecil ia tidak mau merepotkan orang tuanya. Dia juga rajin membantu kedua orang
tuanya, salah satunya dengan merawat neneknya yang sudah tua. Mungkin itu
bentuk terima kasihnya kepada neneknya yang dengan sabar sudah mengurusnya dari
kecil, bukan karena apa-apa tapi karena memang dari muda ibunya sudah berjualan
bunga di depan rumah jadi sejak bayi ia sudah terbiasa dengan neneknya.
Neneknya memang sudah sangat tua, beliau tidak pernah sekalipun mau merepotkan
orang lain, tapi tidak untuk sekarang. Beliau sudah sangat tua, kesehatannyapun
menurun. Ayahnya sendiri adalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan
swasta dekat tempat tinggalnya.
“Nek, cepat sembuh yaa. . nanti kalau sudah sembuh aliya ajak
jalan-jalan deh, hehe J. .” Ucap Aliya dengan polosnya.
Sambil
tersenyum neneknya menjawab “Iya, sayang. Nenek pasti sembuh, nenenkkan kuat,
pasti sebentar lagi sembuh..”
“Bener ya
nek. . “ tambah aliya.
Kali ini
nenek hanya menjawabnya dengan senyuman.
****
Hari berganti
hari, keadaan nenek aliya makin parah. Sejak jatuh di teras rumah beberapa hari
yang lalu, mungkin hari ini puncak dari rasa sakit yang diderita beliau. Tepat
jam 23.30 hari sabtu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggal
beliau sempat menitipkan selembar kertas untuk aliya.
“Aliya. . Kamu harus menjadi orang
hebat nantinya, kamu harus bisa membuat bangga kedua orang tuamu. Disana, nenek
pasti bahagia melihat kesuksesanmu kelak. Nenek sayang aliya”
Tak lama kemudian dari kedua matanya,
menetes air mata yang semakin lama semakin banyak. Meskipun masih kecil tapi ia
bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi, untuk
selamanya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia habiskan dengan neneknya. Dan
sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan-kegiatan itu.
Meskipun begitu ia tetap bersyukur
karena masih ada kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya dan di ujung usia
neneknya ia masih bisa membahagiakan neneknya, walau dengan hal yang sangat kecil.
***
Sekarang sudah 8 tahun sudah
kepergian neneknya dan itu artinya 17 tahun sudah usia aliya. Aliya tumbuh
cantik dan anggun dengan balutan kain di kepalanya. Dengan jilbab merah muda
itu ia pergi menuju toko buku langganannya, ia memang suka membaca tapi ia
lebih suka menghabiskan waktunya dengan main piano (keyboard), tapi sayangnya
ia belun memilikinya jadi untuk menyalurkan bakatnya itu ia harus bersusah payah
untuk menyewa studio musik dan itu tidak murah. Jadi dia mengalihkannya dengan
membaca-baca buku.
Hari ini tanggal 18, bulan
kelahirannya.
“Assalamu’alaikum,
Aliya pulang bunda..”
Tak ada
jawaban, hening suasana dalam rumah.
“Bunda . .,
Aliya pulang” Sekali lagi ia mencoba dengan sedikit mengeraskan suaranya. Tapi
tetap tak ada jawaban. Akhirnya ia berjalan menuju kamar bundanya tapi tetap
saja ia tidak menemukan seorangpun di rumah kecil itu. Kemudian ia berjalan
menuju kamarnya, sampai di kamar ia duduk sambil melepas sepatu yang masih
terpakai di kakinya. Diluar terdengar suara langkah kaki menuju kamarnya yang
terletak di dekat jendela, dan nggak salah lagi bundanya pulang. Tapi
kedatangan ibunya membuatnya sedikit bingung. Mata bunda merah dengan sedikit
kerutan di wajah bunda tiba-tiba mengeluarkan air dari kedua matanya.
“Bunda
kenapa ??” Tanya Aliya dengan wajah bingung.
Tapi tak ada
jawaban yang ada hanyalah suara tangisan yang semakin lama semakin keras.
“Bunda, ada
apa ini.?? Bunda kenapa ??
“Ayahmu nak”
Jawab Bunda.
“Ayah kenapa
Bunda, Ayah kenapa ??” Tanya Aliya khawatir.
Tak ada
jawaban dari bunda.
Saat itu
fikiran Aliya kemana-mana, ia khawatir dengan keadaan ayahnya yang belum jelas,
ia teringat perkataan ayah tadi pagi. Ayah bilang “Aliya, kamu sudah besar,
kamu harus bisa menjaga Bunda nanti. Kalau ayah sudah tidak bisa menjaga bunda
kamu harus janji ke ayah kalau kamu yang akan menggantikan ayah untuk menjaga
bunda, Ayah percaya kok, kamu pasti bisa. Dan kamu juga harus berprestasi di
sekolah biar ayah sama bunda bangga mempunyai anak sepertimu dan kamu juga
masih ingatkan pesan nenek dulu, kamu harus jadi orang sukses.” Tidak biasanya
ayah berkata seperti itu. Mengingat kalimat terakhir dari ayah tiba-tiba ia
mulai meneteskan air yang lama-kelamaan semakin banyak.
“Kamu yang
sabar ya nak “. Bunda mulai bicara.
“Ada apa
bun, , Ayah kenapa?? Tolong jelaskan bun..” Pinta Aliya dengan suara sedikit
serak.
“Ayah meninggal, Ayah kecelakaan saat pulang
membelikan piano untukmu, hari ini ulang tahunmu nak. Ayah sengaja tidak
mengucapkan selamat ulang tahun tadi pagi, ayah berencana untuk memberikanmu
kejutan. Tapi Tuhan berkahendak lain.” Jelas Bunda.
Saat itu
juga hatinya seperti tercabik-cabik. Tak salah lagi kalimat-kalimat tadi pagi
ternyata pesan terakhir ayah untukku.
“Ayah
meninggal karena aku, ayah meninggal karena ingin memberi kejutan kepadaku. Ya
Allah, maafkan hamba..Hamba penyebab meninggalnya ayah”.
Ayah
Tiada kata yang indah selain aku sayang padamu,
Tapi, aku takut
Takut pandangan matamu
Takut melihat wajah seriusmu
Namun,
Aku merasa sunyi saat kehilanganmu di dunia ini
Disaat aku meniti kejayaan ini,
Ya allah, padamu aku memohon
Ampunilah dosa ayahku
Tempatkanlah ayahku bersama kekasihmu
***
Hari berganti hari, Aliya hidup
hanya dengan bundanya yang masih menekuni pekerjaanya sebagai pedagang bunga.
Kini Aliya mulai mengenal cowok, Ia mulai memberanikan diri untuk mengenal
lawan jenis. Selain kepada temannya ia juga sering curhat tentang cowok kepada
bundanya. Pernah suatu ketika ia naksir cowok satu kelasnya, menurutnya cowok
itu keren, ganteng dan bertanggung jawab tapi bertolak belakang sekali dengan
kenyataannya. Sebenarnya cowok itu playboy, tidak bertanggung jawab tapi
mungkin itu ketutup dengan kegantengan cowok itu. Mungkin Aliya terlanjur suka
kepada cowok itu jadi apapun yang ada pada diri cowok itu semuanya bagus
menurut Aliya. Untungnya ada sahabat Aliya yang ngingetin hal itu jadi rasa
suka itu perlahan-lahan bisa ia hapus.
“Bunda,
Aliya sudah boleh pacaran belum ??” Tanya Aliya polos.
“Aliya,
bunda dukung apapun keputusan kamu, kalau kamu sudah yakin. Bunda izinkan, tapi
kamu harus bisa mengatur waktu. Kamu juga harus bisa jaga diri, bunda percaya
kok sama Aliya”. Terang bundanya.
“Iya bunda,
aliya tau. Lagian Aliya cuma nanya aja kok. Aliya mau pacarannya nanti pas
aliya sudah kerja. Tapi bunda, Aliya bolehkan punya teman laki-laki?”
“Boleh
sayang” Jawab bunda.
Bunda Aliya memang sangat percaya
kepada Aliya, bahkan untuk urusan cowok sekalipun ia tidak pernah
mempermasalahkan dengan putri semata wayangnya itu. Mungkin karena didikan
orang tuanya dulu, ia turunkan kepada Aliya. Keluarga kecil itu memang memegang
teguh kepercayaan satu sama lain sehingga terjalin hubungun yang sangat
harmonis antar anggota keluarga.
Setelah
selesai SMA rencananya aliya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena
himpitan ekonomi, sebenarnya Bundanya mau menanggung biaya pendidikannya tapi
aliya memutuskan untuk tidak melanjutkan karena ia tidak mau menyusahkan
bundanya lagi. Ia mempunyai rencana untuk bekerja dulu baru melanjutkan dengan
biayanya sendiri. Tapi Tuhan berkehendak lain karena prestasinya itu sekolah
mau memperjuangkan bea siswa di perguruan tinggi negeri untuk pendidikannya
sampai ia menjadi sarjana nantinya. Ia sangat bersyukur sekali dengan rezeki
yang di berikan kepadanya. Dengan bea siswa itu ia sangat sungguh-sungguh belajar
di perguruan tinggi negeri itu sampai akhirnya ia bisa menyelesaikannya dengan
IP yang sangat tinggi. Dengan jurusan pendidikan.
Berbekal ijazah itu awalnya ia mulai
melamar di salah satu Sekolah Dasar Negeri sebagai guru sukuan (bukan PNS),
tapi karena kecakapannya akhirnya ia bisa menjadi PNS tanpa waktu yang lama. Ia
memilih untuk menjadi guru SD karena menurutnya guru SD itu berperan sangat
besar untuk kelanjutan hidup seseorang karena Pendidikan itu di mulai dari SD
dengan kata lain SD merupakan dasar dari
pendidikan.
Setelah terselesaikannya
pendidikannya dan sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan akhirnya ia
mendapatkan seorang kekasih yang begitu menyayanginya. “IRFAN” yaa. . Irfan
namanya. Ia adalah seorang dokter. Tidak lama kemudian mereka menikah.
“Ayah,
Nenek. Sekarang Aliya sudah sukses. Aliya sudah bisa menjaga Bunda sampai Aliya
menikah. Aliya juga bahagia, Aliya menjadi seorang guru dan Aliya juga
mendapatkan seorang suami yang begitu menyayangi Aliya dan calon keluarga Aliya
nantinya. Semoga ayah dan nenek benar-benar bahagia disana”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar